ASPIRASIKALTIM.COM – Di tengah meningkatnya investasi asing di Kabupaten Kutai Timur, isu integrasi budaya di lingkungan kerja menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Hal ini tampak dalam kunjungan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi ke PT Kobexindo Cement, pabrik semen raksasa di Kecamatan Kaliorang yang melibatkan ratusan pekerja asal Tiongkok.
Dalam pertemuan itu, Mahyunadi menekankan bahwa bahasa Indonesia harus menjadi jembatan komunikasi di antara tenaga kerja lokal dan asing.
“Bahasa adalah perekat sosial. Jika kita ingin menciptakan suasana kerja yang solid dan harmonis, gunakanlah bahasa yang bisa dimengerti bersama,” ucapnya.
Ia menegaskan, penggunaan bahasa nasional bukan hanya persoalan formalitas, melainkan bagian dari strategi membangun kohesi sosial di lingkungan industri multinasional.
Pemerintah daerah, lanjutnya, ingin memastikan tidak ada kesenjangan komunikasi antara pekerja lokal dan manajemen asing.
“Ketika semua memahami bahasa yang sama, akan lebih mudah bagi kita untuk bekerjasama, berkoordinasi, dan mengembangkan produktivitas,” tambah Mahyunadi.
Kunjungan ini juga menjadi ajang diskusi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan, pelatihan tenaga kerja lokal, serta peran perusahaan dalam pengembangan ekonomi daerah.
Manajemen PT Kobexindo Cement menyampaikan komitmennya untuk terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.
Dengan target produksi 8 juta ton semen per tahun dan nilai investasi mencapai Rp15 triliun, pabrik ini diharapkan mampu memperkuat struktur industri di Kalimantan Timur.
PT. Kobexindo Cement adalah peruasahaan yang didirikan oleh Hongshi Group dari China dan terletak di Desa Selangkau, Kabupaten Kutai Timur dengan hasil produksi semen dan clinker menggunakan teknologi pure low-temperature and waste heat power generation.
Namun, Mahyunadi mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap budaya bangsa yang salah satunya diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia. (adv/prokopimkutim)











