Cegah Stunting Bukan Sekadar Formalitas

9afa2cc168221109f8aa1dbe8002b224
Admin |

Nov 2, 2025

Enter description text here. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing. Quo incidunt ullamco.

010

ASPIRASIKALTIM.COM – Upaya menurunkan angka stunting di Kutai Timur (Kutim) kini memasuki fase serius dan konkret. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menegaskan bahwa pencegahan stunting bukan sekadar menjalankan program rutinitas administratif, melainkan menuntut aksi nyata yang terukur dan berkelanjutan.

Dalam Rapat Koordinasi Internal Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang digelar di Kantor Bupati Kutim, Kepala DPPKB Achmad Junaidi B menekankan urgensi pembentukan TPPS periode 2025–2028 yang benar-benar aktif dan berfungsi.

“Kita tidak ingin ini hanya seremoni. TPPS harus menjadi motor penggerak yang mampu mengoordinasikan, menyinergikan, dan mengevaluasi seluruh program lintas sektor secara konvergen,” tegasnya.

Rakor tersebut dihadiri oleh seluruh kepala OPD, unsur Forkopimda, tokoh agama, serta lembaga sosial seperti BAZNAS Kutim. Dalam forum ini juga disosialisasikan Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), yang mendorong para pejabat, tokoh masyarakat, hingga pihak swasta untuk menjadi orang tua asuh bagi minimal tiga anak atau keluarga risiko stunting (KRS), berdasarkan data by name by address (BNBA) yang akurat.

“Intervensi kita harus berbasis data. PMT (Pemberian Makanan Tambahan) harus sampai kepada anak-anak yang benar-benar membutuhkan,” tambah Junaidi.

PMT Pemberian Makanan Tambahan adalah program untuk memberikan makanan bergizi tambahan kepada bayi dan balita serta ibu hamil yang kekurangan gizi atau berisiko stunting. Tujuannya adalah untuk meningkatkan status gizi, mencegah dan mengatasi stunting, serta meningkatkan pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang, dengan memanfaatkan pangan lokal maupun produk makanan pabrikan.

Pemaparan dari Hj. Irma Aryani, perwakilan Dinas Kesehatan Kutim, juga menyoroti pentingnya pemetaan lokus dan identifikasi wilayah prioritas sebagai dasar dalam penentuan strategi dan distribusi program.

DPPKB Kutim menargetkan penurunan angka stunting secara signifikan hingga 2028. Untuk itu, dibutuhkan lebih dari sekadar komitmen—diperlukan kolaborasi, ketegasan, dan keterlibatan nyata seluruh elemen daerah. Stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi soal masa depan generasi Kutim. (adv/prokopimkutim)

Posted in

Berita Lainnya

Baca Juga

Tata Kelola LPG 3 Kg Dinilai Lemah, DPRD Samarinda Desak Pemkot Bentuk Satgas Khusus

ASPIRASIKALTIM.COM – Krisis distribusi gas LPG 3…

Pemkab Kutim Siap Kawal Pemekaran Kutai Utara

ASPIRASIKALTIM.COM – Setelah lama menanti, masyarakat Kutai…

Prayunita Tekankan Kolaborasi, Demi Kutim yang Tangguh, Maju, dan Berdaya Saing

ASPIRASIKALTIM.COM – Di usia yang ke-26, Kabupaten…

Pos Populer

Pengunjung

Pengunjung Hari Ini: [statistik_kunjungan stat=today_visitors]

Kunjungan Hari Ini:  [statistik_kunjungan stat=today_visits]

Total Pengunjung: [statistik_kunjungan stat=total_visitors]

Total Kunjungan: [statistik_kunjungan stat=total_visits]

Pengunjung Online: [statistik_kunjungan stat=online]