ASPIRASIKALTIM.COM – Di pelosok Kaliorang, Kutai Timur (Kutim), ada sekelompok anak-anak yang tetap semangat belajar Al-Qur’an, meskipun hanya di sebuah musala berlantaikan tanah dan beratapkan seng. Musala Al-Aqsa, tempat mereka menimba ilmu agama dengan diampu oleh tiga ustazah yang mengajar tanpa bayaran.
Kehadiran mereka menjadi simbol dari pendidikan nonformal yang tumbuh dari bawah, namun sering kali terabaikan.
Kesadaran akan pentingnya dukungan terhadap fasilitas pendidikan nonformal muncul ketika Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, secara tak terduga singgah ke musala tersebut saat perjalanan dari lokasi wisata Air Terjun Tangga Bidadari.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada pembangunan fisik. Pendidikan moral dan spiritual juga harus dijaga, terutama di daerah-daerah yang tak tersentuh fasilitas memadai,” ujar Mahyunadi.
Sebagai wujud tanggung jawab sosial pemerintah, Mahyunadi memerintahkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kutim, Roma Malau, untuk memberikan insentif Rp1,5 juta per bulan bagi para ustazah pengajar.
Mereka juga akan dijamin oleh BPJS Ketenagakerjaan, sebagai bagian dari program perlindungan bagi pekerja informal di sektor keagamaan.
Menurut Roma, banyak tenaga keagamaan yang mengabdi di daerah terpencil tanpa perlindungan hukum atau jaminan sosial. Padahal, secara ekonomi, mereka sangat rentan.
Program ini diharapkan bisa mengangkat kesejahteraan mereka, sekaligus memperkuat fungsi sosial dari lembaga pendidikan nonformal seperti musala dan TPQ.
Secara ekonomi, insentif ini bukan hanya membantu kebutuhan dasar para pengajar, tapi juga menciptakan ekosistem sosial yang lebih berkeadilan.
Masyarakat desa, terutama anak-anak, tetap bisa mendapatkan pendidikan agama yang layak, tanpa bergantung pada institusi pendidikan agama di kota besar.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menegaskan bahwa pendidikan nonformal adalah bagian dari pembangunan manusia yang menyeluruh, dan harus mendapat porsi perhatian yang sama seperti sektor lain. (adv/prokopimkutim)











