ASPIRASIKALTIM.COM, SANGATTA – Suasana ruang pertemuan Hotel Royal Victoria Sangatta berubah menjadi forum kebangsaan ketika ratusan kader bela negara, tokoh masyarakat, dan pemuda Kutai Timur berkumpul dalam agenda Pembinaan Kesadaran Bela Negara. Di panggung utama, Wakil Bupati Kutai Timur H Mahyunadi menekankan bahwa bela negara adalah benteng moral yang harus dijaga di tengah derasnya pengaruh global.
“Bela negara hari ini bukan lagi bicara seragam militer atau senjata. Ini soal bagaimana kita menjaga nilai Pancasila, memerangi disinformasi, dan tidak larut dalam arus budaya konsumtif,” ujar Mahyunadi. Ia menyebut, kecintaan pada tanah air harus tercermin dalam kepedulian terhadap persatuan, toleransi, dan kontribusi positif bagi pembangunan daerah.
Mahyunadi menjelaskan, Kutim sebagai daerah yang kaya sumber daya dan menjadi magnet investasi membutuhkan generasi muda yang kuat secara karakter. Tanpa mental kebangsaan yang kokoh, kemajuan ekonomi justru berisiko memunculkan kesenjangan dan konflik sosial. Karena itu, kader bela negara diminta tampil sebagai teladan di lingkungan masing-masing.
“Kader bela negara harus jadi contoh, bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di ruang digital. Jadilah penyaring konten dan anti toxic terhadap perilaku menyimpang yang merusak jati diri bangsa,” pesannya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan TNI, Polri, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat menjadi kunci dalam menanamkan wawasan kebangsaan secara berkelanjutan untuk terus membuka ruang kolaborasi dalam rangka memperkuat program pembinaan bela negara di berbagai sektor.
Dalam sesi pemaparan materi, Mayor Jenderal TNI Nugraha Gumilar dari Universitas Pertahanan mengingatkan bahwa bentuk peperangan modern telah berubah wajah. “Sekarang medan perang utama ada di dunia digital. Narasi, opini, dan informasi bisa digunakan sebagai senjata yang tak kasat mata,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan seruan bersama agar semangat bela negara tidak hanya mengisi ruang diskusi, tetapi mengalir dalam tindakan sehari-hari—mulai dari disiplin, taat aturan, hingga berani melawan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. (adv/prokopimkutim)











