ASPIRASIKALTIM.COM, SANGATTA – Edukasi kebencanaan di SDIT Darussalam, Sangatta Utara, pekan lalu tak hanya berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Melalui kerja sama dengan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur (Kutim), pembelajaran tentang banjir dikemas dalam bentuk teori dan simulasi, sehingga lebih mudah diserap anak-anak.
Sejak pagi, halaman sekolah disulap menjadi ruang belajar terbuka. Para petugas BPBD Kutim berdiri di tengah lingkaran siswa dan mengajak mereka berdialog tentang bencana yang kerap terjadi saat musim hujan. Narasumber utama, H Azis H Tappa, menerangkan bahwa secara geografis sejumlah kawasan di Kutim kerap mengalami genangan ketika curah hujan meninggi.
“Jika kita paham risikonya, sejak kecil kita bisa lebih waspada dan tidak panik saat menghadapi banjir. Itulah tujuan kami hadir di sekolah,” jelas Azis.
Pada bagian materi, siswa diberi penjelasan mengenai faktor penyebab banjir, yakni hujan intensitas tinggi, kerusakan kawasan resapan air, hingga perilaku membuang sampah sembarangan. Anak-anak diajak merenungkan kebiasaan sehari-hari, seperti mencampakkan sampah plastik ke parit, yang ternyata dapat memicu bencana.
Selanjutnya, kegiatan beralih ke simulasi. Dengan panduan petugas, siswa mempraktikkan langkah-langkah ketika air mulai naik, mulai dari bergerak ke tempat lebih tinggi, mengamankan dokumen penting, hingga mengikuti jalur evakuasi yang diarahkan orang dewasa atau aparat. Sesi tanya jawab membuat suasana makin hidup, karena banyak siswa penasaran dengan pengalaman petugas saat terjun ke lokasi banjir.
Narasumber lain yang hadir adalah M Abduh, Dani Hendiko, dan Chintya Ochie, staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kutim. Mereka berbagi pengalaman di lapangan, termasuk kesulitan yang dihadapi saat membantu warga di daerah terdampak banjir.
Pihak sekolah menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya memperkuat karakter disiplin dan kepedulian sosial peserta didik. Melalui pemahaman risiko, siswa diharapkan tidak hanya menjaga diri, tetapi juga ikut mengingatkan keluarganya untuk tidak mengabaikan kebersihan lingkungan.
Azis menegaskan, sosialisasi di sekolah menjadi salah satu strategi menumbuhkan budaya sadar bencana di Kutim. Generasi muda diharapkan tumbuh menjadi warga yang tangguh dan siap menghadapi potensi banjir di masa mendatang. (adv/prokopimkutim)











