ASPIRASIKALTIM.COM – Ruang rapat di kantor DPPKB Sangatta dipenuhi suara optimisme.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi berdiri di depan para peserta, menekankan satu hal: “Stunting bukan sekadar data, tapi tentang masa depan anak-anak kita.”
Di balik angka statistik stunting yang perlahan menurun di Kutai Timur, ada kerja senyap ribuan tangan: dari perangkat desa, relawan, hingga perusahaan.
Kini, pemerintah daerah menyalakan lagi semangat itu lewat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang baru saja disosialisasikan DPPKB Kutim.
Program Genting mendorong setiap perangkat daerah, ASN, dan pihak swasta untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak dari keluarga berisiko.
Mereka tidak hanya memberi bantuan gizi, tapi juga pendampingan psikososial dan edukasi pola asuh.
Contohnya datang dari PT DSN Group, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kuti mini membangun Rumah Asuh Sayang Anak—ruang belajar, bermain, sekaligus tempat pemantauan tumbuh kembang anak.
Program ini bahkan menarik perhatian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Kepala DPPKB, Ahmad Junaedi, menyampaikan bahwa data Survei Kesehatan Indonesia mencatat penurunan stunting Kutim dari 29 persen menjadi 20,6 persen.
“Kami ingin terus menurunkan angka ini dengan kolaborasi yang lebih solid,” ujarnya.
Ia menambahkan, keluarga berisiko stunting kini tersisa 12.362 dari hampir 20 ribu sebelumnya.
Penurunan itu disebutnya hasil dari peran aktif Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terus memantau kondisi lapangan.
Bagi Mahyunadi, perjuangan ini belum selesai. Ia menutup acara dengan kalimat sederhana tapi kuat: “Setiap anak berhak tumbuh sehat. Mari kita jadi orang tua asuh yang sesungguhnya.” (adv/prokopimkutim)











