ASPIRASIKALTIM.COM — Warga Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), akhirnya bisa melihat titik terang.
Jika selama ini warga masyarakat hidup dalam keterisolasian yang mereka hadapi selama bertahun-tahun, tahun 2025 Pemerintah Kabupaten Kutim merencanakan pembangunan jalan sepanjang 17,47 kilometer yang akan menghubungkan Desa Manubar, Sandaran, hingga Tanjung Mangkalihat.
Selama ini, mayoritas mobilitas warga di Kecamatan Sandaran sangat bergantung pada jalur laut sebagai satu-satunya akses utama untuk bepergian maupun mengangkut barang. Namun, pilihan ini bukan tanpa kendala.
Jalur laut membutuhkan biaya operasional yang tinggi dan sangat bergantung pada kondisi cuaca yang kerap tidak menentu.
Dalam banyak kasus, gelombang besar dan angin kencang membuat aktivitas pengangkutan tertunda atau bahkan terhenti total.
Hal ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama dalam distribusi hasil perikanan, pertanian, dan produk hutan non-kayu seperti rotan.
Komoditas-komoditas tersebut memiliki nilai jual tinggi di luar daerah, namun terhambat untuk dipasarkan secara luas karena sulitnya akses dan tingginya ongkos distribusi.
Akibatnya, daya saing produk lokal dari Sandaran pun menurun di pasar luar, dan masyarakat hanya bisa menjual dalam skala terbatas di tingkat lokal. Ketergantungan ini membuat pertumbuhan ekonomi berjalan lambat dan tidak optimal.
“Pembangunan jalan ini bukan hanya membuka akses, tapi membuka masa depan ekonomi daerah,” ujar Bupati Ardiansyah Sulaiman saat memimpin rapat fasilitasi pembangunan.
Untuk itu, pemerintah juga berharap keterlibatan sektor swasta untuk mendukung pembiayaan dan percepatan pembangunan.
Ardiansyah menegaskan pentingnya kolaborasi agar hasilnya bisa dirasakan langsung oleh warga. Tanpa sinergi multi pihak, jalan terjal Pembangunan infrastruktur akan menjadi penggerak utama transformasi ekonomi kawasan pesisir. (adv/prokopimkutim)











