ASPIRASIKALTIM.COM – Dari berbagai penjuru Kalimantan mereka datang: membawa sumpit, semangat, dan kebanggaan.
Lebih dari 200 penyumpit dari 22 komunitas berkumpul di Kutai Timur dalam acara latihan bersama yang diinisiasi Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kutim.
Suara tawa, aba-aba, dan hentakan napas memenuhi udara sore di halaman kantor Dispora.
“Ini bukan perlombaan. Ini silaturahmi budaya,” kata Nikodimus, Ketua Panitia yang juga Ketua Komunitas Sumpit Burui Put Sangatta.
Ia menjelaskan, kegiatan ini mempertemukan berbagai komunitas sumpit dari Malinau, Bontang, Samarinda, Kutai Barat, hingga Kukar.
Di sini, mereka saling bertukar teknik, berdiskusi tentang bahan sumpit terbaik, dan memperkenalkan inovasi baru, seperti sumpit bambu ringan hasil eksperimen komunitas lokal.
Acara dibuka secara resmi oleh Basuki Isnawan, Kepala Dispora Kutim, yang mewakili Bupati Kutim. Dalam sambutannya, Basuki menekankan pentingnya menjadikan komunitas olahraga tradisional sebagai pusat pembelajaran lintas generasi.
“Komunitas seperti ini punya peran besar dalam menjaga warisan leluhur, sekaligus mempererat hubungan antarwilayah Kalimantan,” ujarnya.
Di sela latihan, tampak anak-anak muda belajar langsung dari penyumpit senior. Mereka belajar teknik pernapasan, mengatur fokus, hingga memahami filosofi di balik sumpit: bahwa kekuatan sejati lahir dari ketenangan.
Alat sumpit di Kalimantan adalah senjata tradisional suku Dayak yang terbuat dari kayu atau bambu berlubang, digunakan untuk berburu binatang dan dalam pertempuran.
Cara menggunakannya adalah dengan meniup peluru yang disebut damak melalui lubang sumpit menggunakan hembusan napas perut yang kuat.
Silaturahmi ini tak hanya menghasilkan jejaring budaya baru, tapi juga memperkuat solidaritas antar-daerah. Kutai Timur pun mendapat kehormatan menjadi tuan rumah bagi pertemuan besar para penjaga tradisi. (adv/prokopimkutim)











