ASPIRASIKALTIM.COM – Kutai Timur (Kutim) masih bergantung pada batubara sebagai penopang utama ekonomi daerah.
Namun, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menegaskan perlunya strategi baru untuk memperkuat sektor ekonomi produktif lainnya agar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Mahyunadi dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kutim 2025 di Kantor Bupati Kutim.
Menurutnya, kerja keras dan kerja cerdas harus diimbangi dengan sinergi lintas sektor agar transformasi ekonomi bisa berjalan cepat.
“Kita perlu berani keluar dari zona nyaman ekonomi berbasis batubara. Potensi Kutim di sektor industri pengolahan, pertanian, dan pariwisata sangat besar, tinggal bagaimana kita mengelolanya secara serius,” ujarnya.
Kepala BPS Kutim, Widiyantono, menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kutim mencapai 9,82 persen pada 2024, tetapi perlambatan mulai terlihat di semester I 2025 dengan angka hanya 2,1 persen.
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa diversifikasi ekonomi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Mahyunadi menyoroti pentingnya komunikasi antara eksekutif dan legislatif agar program ekonomi berjalan sinkron.
Ia juga mengkritisi serapan APBD Kutim yang masih rendah, yakni baru mencapai 46 persen hingga triwulan III 2025.
“Kalau serapan rendah, artinya roda pembangunan belum berputar maksimal. Masyarakat menunggu hasil nyata dari kebijakan pemerintah,” katanya.
Ia juga menyinggung KUA-PPAS 2026 yang lambat dibahas, mengakibatkan penundaan terhadap pembahasan RAPBD.
Mahyunadi berharap proses politik dan teknokratis bisa diselaraskan demi percepatan pembangunan.
“Kita harus bekerja sepenuh hati. Jangan hanya mengejar angka, tapi pastikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat benar-benar terwujud,” tegasnya. (adv/prokopimkutim)











