ASPIRASIKALTIM.COM, SANGATTA – Peluncuran Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP KEHATI) 2024-2029 di Hotel Royal Victoria Sangatta tak hanya menjadi agenda seremonial pemerintah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur (Kutim) sengaja menghadirkan pelajar dan komunitas lingkungan untuk menguatkan pesan bahwa masa depan bumi Kutim ada di tangan generasi muda.
Suasana ruang pertemuan berubah dinamis ketika sesi dialog dibuka. Pelajar dan aktivis lingkungan bergantian menyampaikan pandangan, mulai dari kekhawatiran terhadap hilangnya habitat satwa hingga harapan agar kebijakan hijau benar-benar diterapkan di lapangan. Forum ini menjadi media edukasi sekaligus ruang partisipasi publik.
Kepala DLH Kutim Aji Wijaya Efendi dalam sambutan yang mewakili Bupati Kutim menyampaikan bahwa RIP KEHATI disusun sebagai investasi jangka panjang. “Kita tidak hanya bicara tentang flora dan fauna, tetapi tentang masa depan masyarakat Kutim secara keseluruhan. RIP KEHATI ini adalah investasi kita untuk generasi yang akan datang,” demikian pesan Bupati yang dibacakannya.
RIP KEHATI sendiri merupakan hasil kolaborasi DLH Kutim dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Universitas Mulawarman Samarinda. Dokumen ini memetakan potensi keanekaragaman hayati serta tantangan yang dihadapi, sekaligus merumuskan langkah pengelolaan yang realistis.
Dalam paparannya, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kutim, Adrian Wahyudi, menekankan pentingnya empat Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di Kutim, mulai dari Lahan Basah Suwi Long Mesangat, Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Teluk Sangkulirang, hingga Wehea-Kelay. Kawasan ini menjadi rumah bagi satwa langka seperti Buaya Badas Hitam (Crocodylus siamensis) dan orangutan Kalimantan.
RIP KEHATI akan diintegrasikan ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dengan begitu, agenda pelestarian alam diharapkan bukan lagi program tambahan, melainkan bagian inti dari kebijakan pembangunan lintas sektor.
Keterlibatan generasi muda dalam peluncuran ini menjadi penanda bahwa pengelolaan lingkungan tidak hanya tugas pemerintah. Kesadaran kolektif warga menjadi kunci agar komitmen di atas kertas benar-benar menjelma menjadi aksi nyata di lapangan. (adv/prokopimkutim)











