ASPIRASIKALTIM.COM – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kutai Timur (Kutim) kembali menggelar Sanga Belida atau Lomba Inovasi Daerah 2025, dengan fokus khusus pada inovasi di bidang pelayanan publik.
Brida menilai, pembenahan layanan langsung kepada masyarakat menjadi kunci percepatan peningkatan indeks inovasi daerah.
Peneliti Brida Kutim, Bagus Rai Wibowo, menyebut tema inovasi pelayanan publik sengaja diangkat karena manfaatnya dapat segera dirasakan warga.
“Tahun ini kami fokus pada pelayanan publik karena dampaknya paling cepat terlihat. Bentuk inovasinya bisa digital maupun non-digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gagasan peserta dikelompokkan dalam tiga kategori: inovasi tata kelola, inovasi pelayanan publik, dan inovasi penerapan teknologi.
Ketiganya dirancang untuk mempercepat proses birokrasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkuat kinerja pemerintah daerah.
Sanga Belida sendiri telah menjadi agenda rutin Brida Kutim selama tiga tahun terakhir.
Program ini berfungsi sebagai pintu masuk penyerapan ide kreatif dari perangkat daerah, kecamatan, maupun masyarakat umum, yang kemudian diusulkan ke Kementerian Dalam Negeri dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pendaftaran lomba tahun ini telah ditutup pada 6 November, dengan lima peserta yang berasal dari dua kecamatan dan tiga perangkat daerah.
Untuk menguatkan aspek akademik dan obyektivitas, Brida menggandeng STIENUS Sangatta, STIPER Kutim, dan SMKN 2 Kutim sebagai tim juri.
Analis Pemanfaatan IPTEK Brida, Edi Supriyanto, mengingatkan kembali bahwa Sanga Belida lahir dari kondisi indeks inovasi Kutim yang sempat rendah.
Kini, situasi berangsur membaik. “Dua tahun lalu kita masih ‘kurang inovatif’. Sekarang sudah naik jadi ‘kabupaten inovatif’ dengan nilai 48,88,” terangnya.
Menurut Bagus, pihaknya saat ini menunggu terbitnya SK Indeks Inovasi Daerah dari Kemendagri yang direncanakan keluar Desember mendatang.
“Target berikutnya adalah mengejar kategori sangat inovatif dengan skor minimal 65,00. Keterbatasan anggaran tidak boleh menghambat kreatifitas. Justru inovasi menjadi jalan bagi Kutim untuk mandiri dan berdaya saing,” tegasnya. (adv/prokopimkutim)











