ASPIRASIKALTIM.COM – Membangun ketahanan pangan tak hanya soal ketersediaan lahan dan peternak, tapi juga inovasi.
Di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kehadiran Mini Feedmill menjadi kunci penting dalam mendukung program budidaya ayam pullet yang tengah digalakkan.
Feedmill mini ini memungkinkan para peternak memproduksi pakan secara mandiri, sehingga tidak tergantung pada pasokan luar.
Dengan pakan yang selama ini menyumbang hingga 80 persen dari total biaya operasional, keberadaan fasilitas ini bisa memangkas beban sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.
Cara kerja mini feedmill umumnya terdiri dari beberapa tahap utama: penanganan bahan baku, penggilingan bahan mentah, pencampuran, pembentukan pelet, dan pendinginan sebelum disimpan.
Proses ini bertujuan untuk menghasilkan pakan ternak yang homogen, nutrisinya seimbang, mudah dicerna, serta memudahkan penanganan dan mengurangi debu.
Kolaborasi antara Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Asosiasi Peternak Ayam Petelur Sangatta (APAPS), dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) lewat CSR-nya menjadi motor penggerak program ini.
Selain mengembangkan pakan, program ini juga bekerja sama dengan Polres Kutim untuk memanfaatkan jagung lokal sebagai bahan baku utama.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyebut kebutuhan telur di wilayahnya sudah mencapai 80 ribu butir per bulan.
“Saat ini, hanya 30 persen yang dipenuhi peternak lokal. Harapannya situasi itu akan berubah secara bertahap dan kutim bisa menuju swasembada telur,” ujarnya.
Sementara itu, Nugroho Dewanto dari KPC menekankan pentingnya pelatihan menyeluruh bagi warga. Mulai dari teknik beternak hingga manajemen usaha, semua disiapkan untuk menciptakan unit produksi berbasis rumah tangga yang berkelanjutan.
Dengan semangat gotong royong dan dukungan teknologi lokal, Sangatta tengah membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa menjadi pondasi ketahanan pangan masa depan. (adv/prokopimkutim)











