ASPIRASIKALTIM.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) semakin serius menghadapi ancaman penyakit Tuberkulosis (TBC).
Salah satu buktinya adalah pelaksanaan Active Case Finding (ACF) yang kini melakukan deteksi dini TBC dengan cara jemput bola dengan menyasar langsung masyarakat dengan risiko penularan tinggi, khususnya di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau layanan kesehatan.
Ahsan Zainuddin dari Dinas Kesehatan Kutim menegaskan bahwa Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya jika tidak ditangani sejak dini, sehingga upaya pencegahan dan deteksi awal menjadi langkah penting yang harus dilakukan untuk memutus rantai penularan di tengah masyarakat.
Di Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kombeng, Upaya deteksi dini TBC dilakukan dengan pemberian layanan pemeriksaan X-Ray gratis diadakan di balai pertemuan umum desa.
Ratusan warga berdatangan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut, terutama mereka yang memiliki gejala batuk kronis atau kontak erat dengan penderita TBC.
Melalui metode skrining dan pemeriksaan rontgen dada, program ini bertujuan menemukan kasus laten TBC sebelum menjadi aktif.
Sekretaris camat Kombeng, Uleh Juk, menegaskan pihak kecamatan telah melakukan sosialisasi masif agar masyarakat tidak ragu memeriksakan diri.
“Partisipasi warga sangat penting untuk menyukseskan program ini,” ujarnya.
Selain Kombeng, Muara Wahau juga menjadi prioritas. Tingginya mobilitas dan keterbatasan infrastruktur kesehatan membuat deteksi dini sangat krusial.
Dengan hampir satu juta kasus baru setiap tahun secara nasional, dan 144.000 kematian akibat TBC menurut Global TB Report 2023, langkah Pemkab Kutim dianggap strategis dan tepat sasaran. (adv/prokopimkutim)











