ASPIRASIKALTIM.COM – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menjadikan sektor perkebunan sawit lebih ramah lingkungan kini diarahkan melalui sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).
Sertifikasi internasional ini menjadi tiket penting bagi petani lokal untuk mengakses pasar global yang semakin menuntut produk berkelanjutan.
RSPO sendiri adalah lembaga internasional yang menetapkan standar produksi minyak sawit berkelanjutan. Melalui sertifikasi ini, produk petani akan diakui oleh pasar global karena memenuhi prinsip tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Komitmen Pemkab Kutim untuk mendukung petani mendapatkan sertifikat RSPO tersebut disampaikan dalam dialog interaktif bertajuk “Kolaborasi Mewujudkan Transformasi Perkebunan Berkelanjutan Kabupaten Kutai Timur” di Hotel Royal Victoria, Sangatta.
Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, petani, koperasi, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra internasional seperti Barry Callebaut Group Singapura.
Menurut Poniso Suryo Renggono, Asisten Ahli Pemerintahan Umum dan Kesra Pemkab Kutim, transformasi ini menjadi bagian dari agenda besar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Kita ingin agar seluruh sektor perkebunan di Kutim bergerak ke arah praktik berkelanjutan. Sawit tidak boleh lagi identik dengan deforestasi,” ujarnya.
Ketua Koperasi Jasa Mutiara Kongbeng, Ade Akbar, menyebutkan bahwa petani di wilayahnya siap mengikuti proses sertifikasi, namun masih membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah dan mitra.
“Pelatihan dan pendanaan adalah kunci. Kami tidak ingin hanya menjadi penonton di rantai pasok global,” katanya.
Ripto Widargo dari Bappeda Kutim menambahkan bahwa Pemkab sedang menyiapkan pilot project di salah satu kecamatan sebagai percontohan.
“Kita ingin model ini bisa direplikasi oleh daerah lain. Kutim punya potensi besar menjadi pelopor di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Dukungan dari Barry Callebaut Group menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor. Perwakilannya, Jesica Wettstein, menyebut kolaborasi dengan petani lokal menjadi prioritas perusahaan global yang berkomitmen terhadap keberlanjutan.
“Kami ingin membantu memastikan rantai pasok di Kutim bisa lebih transparan, efisien, dan ramah lingkungan,” katanya.
Langkah Kutim ini dinilai sejalan dengan tren global menuju ekonomi hijau dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit berkelanjutan terbesar di dunia. (adv/prokopimkutim)











