ASPIRASIKALTIM.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat komitmennya menciptakan lingkungan yang ramah anak, salah satunya lewat sektor kesehatan.
Sembilan puskesmas kini dilatih menjadi pelopor Pelayanan Ramah Anak di Puskesmas (PRAP), program nasional yang menekankan pelayanan kesehatan inklusif dan berperspektif anak.
Pelatihan berlangsung di Balikpapan dan diikuti para kepala puskesmas, perawat, serta bidan dari berbagai kecamatan.
Kegiatan ini didukung langsung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Menurut Eko Adit Prasetyo dari Kementerian PPPA, konsep ramah anak bukan sebatas fasilitas fisik.
“Yang paling penting adalah perubahan perilaku. Petugas harus bisa berkomunikasi dengan anak tanpa tekanan, penuh empati,” ujarnya.
Selain itu, PRAP juga menuntut penerapan empat aspek utama: manajemen pelayanan, kompetensi tenaga medis, fasilitas, dan mekanisme penyelenggaraan.
Contohnya, ruang tunggu dilengkapi pojok baca anak, layanan remaja (PKPR) diperkuat, serta tersedia sarana pengaduan ramah anak.
Kepala Puskesmas Sangatta Utara, drg Rina Puspita, menyebutkan bahwa pendekatan ini membawa dampak positif.
“Kami lebih peka terhadap kebutuhan anak. Akibatnya, tingkat kepuasan masyarakat meningkat signifikan,” katanya.
Peserta pelatihan juga dijadwalkan melakukan kunjungan belajar ke Puskesmas Mekar Sari di Balikpapan Tengah, salah satu contoh sukses penerapan PRAP.
“Kita ingin belajar langsung bagaimana sistem itu bekerja di lapangan,” ungkap Rita Winarni, Kabid Dinas PPPA Kutim.
Enam puskesmas tercatat menonjol dalam evaluasi administratif: Kaubun, Kombeng, Sangatta Utara, Sepaso, Teluk Lingga, dan Teluk Pandan. Setelah verifikasi, hasil akhir akan diumumkan pada HUT Kutim ke-26 mendatang.
Kutim berharap, program PRAP tak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kepedulian, kenyamanan, dan kepercayaan sejak dini—pondasi penting bagi masa depan generasi muda. (adv/prokopimkutim)











